Pengalaman ini aku alami ketika aku masih kecil sewaktu aku masih duduk dibangku sekolah dasar (SD), kira-kira pada saat aku berumur 7 atau 8 tahun. Kejadian ini bermula dikarenakan rumahku terletak di wilayah yang pada saat itu bisa dibilang wilayah perkampungan, bahkan di belakang rumahku tidak jauh dari areal persawahan yang cukup luas dan dikarenakan di belakang rumah ku juga memiliki halaman yang cukup luas sehingga ibuku memelihara beberapa ekor bebek dan ayam untuk diambil telur dan dagingnya. Dikarenakan kami memelihara beberapa unggas ternak tersebut, maka untuk pakannya ibuku selalu menggunakan hasil dari penggilingan padi yang bisa digunakan untuk pakan ternak yang biasa disebut dengan dedak. Untuk membeli pakan ternak tersebut ibuku selalu menyuruh aku untuk membelinya di tempat penggilingan padi yang kebetulan tempatnya tidak begitu jauh dari rumahku. Pada saat itu kira-kira siang hari aku disuruh ibu untuk membeli pakan ternak (dedak) tersebut di tempat penggilingan padi tersebut. Aku mengajak kakak dan salah satu temanku untuk menemaniku ke tempat penggilingan padi tersebut, tinggal beberapa meter dari tempat penggilingan tersebut ada sekelompok angsa atau yang biasa disebut soang sedang berkumpul di tengan jalan yang membuat kami tidak bias lewat menuju tempat penggilingan padi tersebut. Karena soang dikenal sebagi hewan yang cukup galak dan suka menyerang dengan cara menyosor, teman dan kakakku tidak berani melewati jalan yang dipenuhi bebertapa soang tersebut. Lalu, aku dengan PD-nya mengambil sebatang kayu yang cukup panjang dan berusaha mengusir kerumunan soang tersebut. Awalnya banyak soang yang akhirnya menyingkir dari jalan tetapi setelah aku berhasil lewat tanpa disangka salah satu soang terbang lalu mengejar aku, aku pun lari terbirit-birit sampai masuk ke tempat poenggilingan, hingga akhirnya pemilik tempat ppenggilingan padi tersebut mengusir soang yang terbang mengejar aku dan ternyata soang tersebut memang miliknya. Akhirnya dengan muka yang pucat pasi akupun membeli pakan ternak (dedak) yang disuruh ibu, sambil di tertawai oleh semua orang yang ada di tempat penggilingan begitu juga oleh kakak dan temanku sambil mengejek, “Makanya jangan sok berani!” Uuwgh, benar-benar sial hari itu, hingga sampai saat ini hal itu menjadi trauma bagiku, dan aku tidak akan berani melewat jalan jika jalan tersebut terdapat kerumunan soang.. T.T
Senin, 01 November 2010
"Akibat Sok Berani Akhirnya Dikejar Angsa (Soang)"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar