Pengalamanku ini sudah jelas terjadi ketika aku dan kakakku masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Peristiwa ini disebabkan oleh kebiasaan di keluargaku terutama yang ditanamkan oleh ibuku sendiri semenjak aku balita, yaitu antara aku dan kakakku selalu dibelikan barang yang serupa mulai dari baju, sepatu, bahkan sampai tas sekolah beserta peralatannya. Yang membedakan hanyalah misalnya ukuran dari barang-barang tersenut misalnya baju dan sepatu. Peristiwa ini diawali ketika aku dan kakakku terlambat bangun untuk berangkat ke selolah. Waktu itu sekolah dimulai jam 7 pagi sedangkan kami baru bangun jam 6.30 pagi, alhasil kami terburu-buru untuk mempersiapkan diri ke sekolah. Dan sesampainya di kelas aku baru menyadari bahwa tas yang aku bawa adalah milik kakakku begitupun sebaliknya tas yang dibawa kakakku adsalah milikku. Bingung bercampur panik dikarenakan ada PR yang harus dikumpulkan, akhirnya aku memberanikan diri untuk menceritakan yang sebenarnya kepada guruku. Dan tanpa di sangka guruku menceritakan permasalahanku ke seluruh anak murid di kelas, kontan saja mereka semua mentertawakanku karena sudah datang terlambat aku salah membawa tas. Dengan muka yang sudah memerah karena malu aku ahrirnya diijinkan untuk menukar tas milik kakakku yang kebetulan kelasnya bertepatan di sebelah kelasku. Pada saat pulang aku menceritakan peristiwa memalukan itu ke ibuku dan aku meminta ibu agar tidak membelikan kami barang dengan bentuk yang serupa. Karena cukup sekali aku ditertawakan oleh teman sekelasku.
Senin, 01 November 2010
"Ketukar Tas Waktu SD"
“Main Layangan Di Kebun. Jadi Diantub Tawon deh..”
Sewaktu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), hobiku sepulang sekolah adalah main di sawah dikarenakan rumahku tidak begitu jauh dari areal persawahan. Aku suka sekali bermain di sawah karena aku termasuk anak yang tomboy sehingga aku sering memancing di sawah, sekedar main-main di sawah bahkan sampai bermain layangan adalah kegiatan favoritku di sawah. Pada saat itu sepulang sekolah sekitar jam.3.30pm aku bersiap-siap untuk bermain layangan disawah di karenakan kondisi angin pada saat itu sedang bagus. Pada saat itu aku tidak mengajak siapapun untuk bermain di sawah, di karenakan mbah ku atau lebih tepatnya kakek-ku sudah berada di sawah untuk menggarap tanah garapan yang dimiliki keluargaku. Sewaktu aku bermain layangan ternyata kondisi angin memang lebih bagus karena layanganku cepat terbang tinggi, hingga akhir benang layanganku. Pada saat itu aku ingin beristirahat sejenak, sehingga aku mendekati areal kebun singkong untuk mengikat tali benang layanganku di sana. Sesampainya di areal kebun singkong milikku aku pun mengikat tali layanganku di salah satu kebun singkong yang cukup tinggi, tetapi setelah aku berhasil mengikat, ternyata ada suara dengung-an yang keras sekali di telingaku sampai akhirnya dengungan itu berhenti tetapi ada sesuatiu yang menusuk telingaku cukup skit dan perih, aku lalu membiarkannya saja dan aku belum menyadari kalau aku di-antub tawon sampai kakek-ku melihat kupingku menjadi merah dan membesar dan kakek ku bilang aku diantub tawon.. aku langsung panik dan kakekku langsung membawaku pulang untuk diberikan pengobatan yaitu dengan diolesi minyak tawon. Syukurlah kakekku cepat memberikan prtolongan walaupun kupingku sempat merah dan membengkak karena ulahku sendiri yang senang main di sawah…
"Gara-gara Penasaran Malah Jadi Kecebur Kali"
Pengalaman ku ini terjadi ketika aku duduk di bangku kelas 4 SD. Pada saat itu dikarenakan di belakang rumahku tidak jauh dari areal persawahan yang cukup luas (bahkan sampai saat ini) sehingga setiap aku sepulang sekolah sejak kelas 1 SD aku sering sekali main ke sawah. Pada saat itu aku ingat sekali pada hari Jumat aku mengajak adikku Arif yang baru duduk di bangku kelas 1 SD dan tetangga ku Kiki yang juga masih duduk di bangku kelas 1 SD yang sekaligus merupakan teman sekelas adikku di SDN Kedaung 01 Bekasi. Waktu itu aku mengajak mereka ke sawah untuk mencari ikan di pematang-pematang sawah yang telah dipanen tetapi setelah beberapa jam mencari ikan kami tidak mendapatkan 1 ekor pun ikan, sehingga aku mengajak Arif dan Kiki untuk ke kali yang ada di tengah-tengah sawah tersebut. Pada saat itu ada sesuatu benda yang menarik perhatianku yaitu busa gabes (yg suka ada di kardus peralatan elektronik untuk menahan guncangan), benda tersebut bergerak melawan arus air kali sehingga aku semakin mendekat sambil jongkok ke pinggir kali, aku pun memanggil arif dan Kiki untuk melihat keanehan benda mati yang bergerak melawan arus kali, bersamaan di saat aku memanggil mereka tanpa kusadari ternyata tanah di pinggir kali yang aku injak jebol sehingga akhirnya aku tercebur ke kali sampai batas leher, tapi di tengah kepanikan, tanganku refleks untuk memegang tanah di pinggir kali sehingga aku tidak terbawa arus kali. Pada saat itu diswah tidak ada orang lain selain kami bertiga, sehingga aku meminta tolong adikku Arif yang merupakan cowo sendiri pada saat itu untuk menarikku ke atas, tetapi tidak disangka adikku Arif malah tertawa terbahak-bahak melihat ku jatuh ia menyangka aku sedang bercanda, yang sadar pada saat itu hanyalah kiki yang umurnya di bawah adikku bahkan badannya jauh lebih kecil dibanding Arif. Ia langsung berkata ke Arif, ”Arif kaka kamu tuh jatuh beneran tau,,,!!!” lalu Kiki refleks langsung menarikku ke atas dan dengan kuasa Allah swt dengan badan Kiki yang jauh lebih kecil dibanding aku, ia bisa menarikku ke atas daratan sendirian. Aku pun akhirnya selamat dan dengan baju basah kuyup aku pulang tanpa menceritakan kejadian yang aku alami ke orang tua karena takut diomeli….hehehe (thx u VeRy Much 4 Qq)
"Anjing disangka Kucing? Akhirnya Jadi dikejar deh…"
Kisahku ini terjadi ketika aku masih duduk di bangku kelas 3 SD. Pada saat aku duduk di bangku SD, aku dan kakakku yang duduk di bangku kelas 4 SD selalu berangkat dan pulang bersama-sama dengan cara jalan kaki walaupun jarak sekolah kami dari rumah sekitar 1KM. Tetapi karena hampir semua teman-teman kami juga berangkat dan pulang dengan berjalan kaki maka kami pun dengan tetap riang gembira menjalani masa-masa SD kami dengan selalu berjalan kaki. Kejadian ini bermula pada saat aku dan kakakku sudah pulang dari sekolah pada waktu sore hari. Kami pada waktu itu memutuskan untuk pulang sekolah melalui jalan pintas, yaitu jalan pintas melalui kebun singkong atau ketela yang ditengahnya terdapat jalan setapak yang sering dilalui orang agar lebih efisien waktu dibanding melalui jalan besar atau jalan aspal. Pada saat kami melalui jalan pintas tersebut ketika kami pulang sekolah, jalan pintas tersebut sedang sepi sehingga hanya kami berdua yang melalui jalan tersebut. Pada saat di tengah-tengah jalan di kebun singkong tersebut, kakakku berkata kepadaku, “Fit, qo kaya ada yang ngikutin kita ya” aku lalu langsung menengok kebelakang, lalu aku dengan santai berkata ke kakakku “engga ada yang ngikutin qo ka Cuma ada kucing warna item”, lalu karena kakakku penasaran ia juga menengok ke belakang, dan tanpa disangka oleh ku kakak kulangsung berteriak sambil berlari “Fitriii,,, itu anjing bukan kucing!!” tanpa menengok kebelakang lagi aku langsung lari tunggang langgang berdua dengan kakakku. Dan ternyata anak anjing yang awalnya kusangka kucing itu juga langsung berlari mengejarku dan cerdiknya lagi anak anjing itu lari memutar kebun sehingga tiba-tiba anak anjing itu berada di depan aku dan kakakku yang sudah berada di ujung jalan pintas melewati kebun tersebut, padahal kami sudah cukup kencang berlari. Untungnya disaat kami sedang ketakutan,ada seorang- ibu-ibu yang mengusir anak anjing tersebut yang mengejar kami. Ibu-ibu itu langsung berkata, “besok-besok kalau ada anjing jangan langsung lari nanti malah dikejar”. Kami pun mengucapkan terimakasih kepada ibu itu sambil menggumam dalam hati “Daripada ga lari kalau ada anjing, besok-besok lebih baik ga usah lewat jalan ini lagi”. Kejadian ini sampai saat ini membuat kakakku jadi sangat takut kalau ada anjing, untung aku tidak sampai trauma tetapi hanya menghindari anjing saja..hehe..
"Akibat Sok Berani Akhirnya Dikejar Angsa (Soang)"
Pengalaman ini aku alami ketika aku masih kecil sewaktu aku masih duduk dibangku sekolah dasar (SD), kira-kira pada saat aku berumur 7 atau 8 tahun. Kejadian ini bermula dikarenakan rumahku terletak di wilayah yang pada saat itu bisa dibilang wilayah perkampungan, bahkan di belakang rumahku tidak jauh dari areal persawahan yang cukup luas dan dikarenakan di belakang rumah ku juga memiliki halaman yang cukup luas sehingga ibuku memelihara beberapa ekor bebek dan ayam untuk diambil telur dan dagingnya. Dikarenakan kami memelihara beberapa unggas ternak tersebut, maka untuk pakannya ibuku selalu menggunakan hasil dari penggilingan padi yang bisa digunakan untuk pakan ternak yang biasa disebut dengan dedak. Untuk membeli pakan ternak tersebut ibuku selalu menyuruh aku untuk membelinya di tempat penggilingan padi yang kebetulan tempatnya tidak begitu jauh dari rumahku. Pada saat itu kira-kira siang hari aku disuruh ibu untuk membeli pakan ternak (dedak) tersebut di tempat penggilingan padi tersebut. Aku mengajak kakak dan salah satu temanku untuk menemaniku ke tempat penggilingan padi tersebut, tinggal beberapa meter dari tempat penggilingan tersebut ada sekelompok angsa atau yang biasa disebut soang sedang berkumpul di tengan jalan yang membuat kami tidak bias lewat menuju tempat penggilingan padi tersebut. Karena soang dikenal sebagi hewan yang cukup galak dan suka menyerang dengan cara menyosor, teman dan kakakku tidak berani melewati jalan yang dipenuhi bebertapa soang tersebut. Lalu, aku dengan PD-nya mengambil sebatang kayu yang cukup panjang dan berusaha mengusir kerumunan soang tersebut. Awalnya banyak soang yang akhirnya menyingkir dari jalan tetapi setelah aku berhasil lewat tanpa disangka salah satu soang terbang lalu mengejar aku, aku pun lari terbirit-birit sampai masuk ke tempat poenggilingan, hingga akhirnya pemilik tempat ppenggilingan padi tersebut mengusir soang yang terbang mengejar aku dan ternyata soang tersebut memang miliknya. Akhirnya dengan muka yang pucat pasi akupun membeli pakan ternak (dedak) yang disuruh ibu, sambil di tertawai oleh semua orang yang ada di tempat penggilingan begitu juga oleh kakak dan temanku sambil mengejek, “Makanya jangan sok berani!” Uuwgh, benar-benar sial hari itu, hingga sampai saat ini hal itu menjadi trauma bagiku, dan aku tidak akan berani melewat jalan jika jalan tersebut terdapat kerumunan soang.. T.T
